UDIKISASI DI GI

Standar

Hari ini, ya, hari ini gue baru aja pergi ke GI. Ini (kalo gasala) kali kedua gue ke GI. Apa kali ketiga gitu, tapi tetep aja kayak orang udik. Btw buat yg belom tau, GI itu Grand Indonesia, mall yg letaknya dekat b̶u̶l̶a̶t̶a̶n̶ bunderan HI. Semua ini berawal dari keinginan Bokap gue untuk pergi ke Magnum Café. Akhirnya kamipun bersepakat untuk menghabiskan malam ini di kafe eskrim tersebut.

Bokap: “Ke Magnum Café yuk.”
Gue & nyokap: “Ayuk.”
*bonyok masuk kamar siap2*
*gaklama nyokap keluar, ke tempat gue, nanya*
Nyokap: “omong2, papa tanya, Magnum Café itu dimana sih?”
Gue: *menggelinjang (Pocongggisme)*

Buat yg uda pernah ke GI, loe pasti tau kemegahan mall nya. Gue terpukau. Udah kea orang kampung pertama kali naik eskalator. Ya, secara, desain GI lantai satu ke atas kan keren banget. Yang lantainya batulah. Kawasan Holland. Kawasan China, Jepang (atau apalah), Yunani (emang ada ya?), dll. Betah gw disitu. Mana kalau dari lantai paling bawah liat kelangit2, langit2nya keren! Lampu cilik2 berkelapkelip bagaikan bintang di m̶a̶t̶a̶m̶u̶ langit malam.

Pokoknya semenjak gue menginjak GI, gue dan sekeluarga guepun beralih menganut faham Udikisme.

Sayang sekali, gue bukan penganut faham udikisme yang fanatik. Gue ga foto2 disana. Ohmy bayangin aja kalau gue foto-foto di GI, di eskalatornya dengan gaya alaay? Bonyok gue yang kelewat gaul mungkin maumau aja motoin, tapi sayang urat malu gue masih tebel. Lagian gue sampe kesana uda sekitar jam 8 malam, b̶u̶k̶a̶n̶ ̶j̶a̶m̶ ̶k̶u̶m̶a̶t̶ ̶g̶u̶e̶ jadi sedikit buruburu mengejar tujuan awal kami kesana. Yaitu, ke Magnum Café!

Tapi bahagianya, kami kesasar.

Bagus! Gue sama bonyok terus jalan lurus melalui Hokben ke arah tempat-dijualnya-mainan. Di depan Hokben, berdirilah seorang wanita dengan freaknya, penyakit sibuk bb akut tengah menjangkit dirinya. Well, gimana gak freak. Itu di tengah jalan, dan dia berdiri di tengah jalan dengan absurdnya, sendirian tak peduli sekitar. Sibuk dengan blackberry nya. Kemudian gue dan bonyok masuk ke tempat-dijualnya-mainan, tapi tentu saja kami tak menemukan jalan keluar. Setelah bertanya ke kasir jalan yang sebenarnya (pintu keluar, koridor, Magnum Café! Ucapkan bersama-sama! Pintu keluar, koridor, Magnum Café! Lebih keras!), kamipun kembali ke jalan semula, melewati Hokben lagi.

Freaknya ya, wanita itu masih ada disana, masih terjangkit penyakit sibuk bb stadium akhir.

Berusaha menghindari dia agar tidak tertular, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tujuan semula yang daritadi belom kesampean itu. Sambil jalan, gue kerap tersepona dengan langit2 koridor. Lampunya mewah bangett. Kristal kayak di hotel2 gitu. Cahayanya kuning remang pendar, anjir lah keren banget. Terpukau pukau gw sehingga gw jalan sambil mendongak.

Akhirnya dengan penuh kebahagiaan dan keudikisasian, kami tiba di tujuan kami k̶e̶m̶u̶d̶i̶a̶n̶ ̶k̶a̶m̶i̶ ̶p̶u̶n̶ ̶b̶e̶r̶t̶e̶r̶i̶a̶k̶ ̶”̶B̶e̶r̶h̶a̶s̶i̶l̶,̶ ̶b̶e̶r̶h̶a̶s̶i̶l̶,̶ ̶h̶o̶r̶e̶!̶”̶. Kami sedikit ciut ketika melihat antrian yang sangat panjang itu, tapi kami tidak menyerah. Kami harus mengantri demi nafsu makan magnum kami.

Bokap: “ma.”
Nyokap: “ya?”
Bokap: “kita harus antri. Uda jauh2 dateng soalnya”
Nyokap: “oke. Ayo kita antri”
Bokap: “gaklah, lu yang antri!”
Nyokap: “-_-”

Lalu nyokap pun mengantri dengan hati yang ikhlas.

Kebetulan (atau bukan kebetulan), di sebelah Magnum Café sedang ada pertunjukkan air mancur. Bokap dengan antusiasnya nyuruh2 gue: “Foto! Foto!” Tapi berbekal kamera zoom hape gw dan kondisi yang desak2an, gue ga berhasil dapat foto yang bagus, sayang sekali. Dan sayang sekali juga, fotonya gak bisa keuplod!-_-

Magnum Café itu ternyata unik. Ini pertama kalinya gue ke Magnum Café, tambah udik deh @_@ penerima tamunya pakai baju putri & pangeran. Di deket pintu masuknya ada kereta kuda & kuda palsu. Pelayannya pake baju ksatrianya (apa dayang, au dah). Kursi2nya lucu loh, ada yang berbentuk seperti es krim magnum. Di pilar2nya Magnum Café juga digantung2kan banyak pigura kosong. Di pojok deket pintu masuk, ada pula semacam studio–jadi ada dua kursi yang bentuknya unik dan latarnya hijau rumput dg tulisan emas “Magnum Café” ditatahkan di atasnya. Ada seorang fotografer ber-slr di sana yang siap memotret kamu-kamu, kalau pada mau mengabadikan momen.

Waktu gue berhasil dapat tempat duduk, si puteri penerima tamu langsung menyuguhkan buku menu. Gue ngeliat si puteri pasti ribet pakai dress begituan. Cantik, sih, jadinya. Tapi yahh, mau dia suka ataupun enggak, buat duit. Wkwkwk. Buku menunya mewah, semua keliatan enak! heerlijk! Cerita saat gue makan lebih baik gak gue tulis, biar gak ada yang ngiler.

Tapi bonyok gue gaul bat si. Gue lagi batuk mala diajak makan magnum dan disuruh minum es teh. Paraah, gue pulang2 batuknya tambah parah. Lawaknya lagi, bokap gue. Dia ngeliat, ada satu biji anggur plastik copot dari untaiannya. Dipungutnyalah olehnya dan berbisik kepada kami.

“Eh, kalau papa ambil ini, terus masukkin ke es krim meja sebelah bakal dia makan gak ya?”

Sumpah, bokap gue iseng bat………. Tapi gue bokap dan nyokap pulang dengan bahagia \(´▽`)/ meskipun jujur agak eneg gara2 kebanyakan makan wkwk. Kamipun sampai dirumah dg selamat dan hidup bahagia selamanya.

PS: jangan minum cokelat, kalau elu makan cokelat.

Genochin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s