cinta sejati tidak punya akhir.

Standar

Gw nulis cerita ini sambil muterin lagu sedih. Karenanya gw sarankan, lu juga membacanya sambil dengerin lagu sedih.šŸ™‚ enjoy!

Aku putus dengannya. Dia benar-benar mengecewakan hatiku. Dia bilang dia akan pergi keluar negeri untuk belajar. Dia akan sekolah di Inggris selama 10 tahun. Dia akan meninggalkan Australia. Dia akan meninggalkanku. Dia tega. Dia jahat. Pacar macam apa dia, meninggalkanku sendirian. Padahal dia bilang dia takkan pernah pergi dariku. Pembohong. Semua laki-laki itu pembohong. Aku benci dia. Aku benci. Aku tidak mau melihat mukanya lagi.

Ibu tidak melihatku pulang. Dia sedang sibuk membongkar gudang kecil di samping rumah kami. Ayah sedang bekerja ke luar kota, jadi aku sendirian di dalam. Tidak ada makanan apapun di meja. Sepertinya ibu terlalu sibuk sampai lupa memasak makan siang. Tapi toh aku sedang tidak niat makan. Pikiranku kacau karena pacarku. 5 tahun lamanya kami menjalin hubungan dan sekarang benang merah itu putus. Bukan salahku– itu salahnya. Dia yang terlalu jahat.

Aku masuk ke kamarku. Setelah melempar tasku sembarangan ke atas kasur, aku membanting pintu kamar dengan keras dan menguncinya. Dengan perasaan tak menentu, kulempar pula diriku ke atas kasur. Kubenamkan wajahku ke dalam bantal. Aku kacau. Hatiku perih. Aku benci dia. Tapi aku tak bisa memungkiri kalau sekarang aku merindukannya. Aku bingung. Aku tak tau apa yang sebenarnya kurasakan. Kubiarkan kesedihanku tumpah dalam bentuk bulir-bulir air mata. Satu persatu tetesannya mengalir membasahi bantal, tapi aku tak peduli.

Terdengar suara pintu kamarku diketuk. Itu ibu. Sepertinya dia menyadari kepulanganku karena suara pintu yang kubanting. Aku tidak membalas ketukannya, dan tampaknya dia mengerti.

“Aku meninggalkan beberapa barang yang dapat membantumu disini,” katanya dari balik pintu. “Kuharap kamu menyempatkan diri melihatnya.”

Aku mendengar langkahnya pergi menjauh dari depan kamar. Sedikit didorong rasa penasaran, aku membuka pintu dan mengambil kardus kecil yang ditinggalkan ibu di depan kamarku. Kutarik kardusnya ke dekat kasur. Setelah mengunci pintu kembali, akupun membuka kardus lusuh itu.

Isinya cuma sebuah buku. Sampulnya berwarna merah, dijilid hanya dengan menggunakan benang. Kuambil buku itu. Di sampulnya tertulis, ‘kumpulan surat dari kekasihku sayang. Tertanda, Jessica Thompson.’

Aku mengenalnya sebagai nama nenekku. Berarti, ini surat-surat yang ditulis kakek untuk nenek. Kubuka halaman selanjutnya. Kertas-kertas dibawahnya sudah menguning, tapi tulisannya masih bisa terbaca.

Surat pertama ditulis kakek pada saat dia masih kanak-kanak. Tulisannya berantakan, tapi masih bisa kubaca. 12 Mei 1928.

Dear Jessica, dua hari lagi aku ulang tahun yg ke delapan. Datanglah kerumahku, aku menunggumu.

Nenek tidak mencantumkan surat balasannya. Tapi aku rasa, nenek datang ke rumah kakek, karena kakek mengirim surat lagi 3 hari kemudian.

15 Mei 1928.
Dear Jessica, terima kasih sudah datang. Aku sangat senang. Besok ayo main ke bukit yang biasanya. Aku menunggumu dari pagi dibawah pohon pinus.

16 Mei 1928
Aku senang sekali bisa menghabiskan waktu bersamamu! Ayah yang mengajariku kalimat itu. Pohon pinus itu hampir sama dengan tinggi kita, ya.

26 Mei 1928
Maaf aku tak mengirim surat selama sepuluh hari, ayah tak bisa mengantarnya. Dia keluar kota. Kata ayah, pak pos takkan mau mengantarnya karena jarak rumah kita yang begitu dekat! Jarak rumah kita memang dekat sekali, tapi aku tetap mau mengirim surat. Aku suka surat.

Aku tersenyum melihat tingkah kakek. Ibu pernah cerita, kalau rumah kakek dan rumah nenek hanya terpisah dua blok. Mereka bertemu dan pergi ke bukit pinus bersama-sama setiap hari. Tapi, kakek tetap meminta ayahnya mengirimkan surat pada nenek. Aku melongkap banyak surat dan berhenti di tanggal 14 Februari 1932.

Jessica, sekarang kamu berumur 12 tahun! Selamat ya. Sekarang kamu lebih tua dariku. Tenang saja, bulan Mei nanti kita akan seumuran lagi. Maukah kamu mampir ke bawah pinus sore nanti? Ada yang mau kusampaikan padamu.

15 Februari 1932
Mulai sekarang, aku yang akan mengantarkan suratku padamu. Sekaligus bertemu kamu, karena setiap hari, aku merindukanmu. Aku mencintaimu. Kita resmi kekasih sekarang! Aku sangat bahagia.

16 Februari 1932
Aku mencintaimu.

17 Februari 1932
Aku mencintaimu.

Aku terharu dengan cinta kakek. Isi suratnya sama setiap hari, hanya dua kata. “aku mencintaimu”. Semuanya isinya sama. Intinya cuma dua kata cinta itu. Aku membuka dengan cepat halaman-halaman berikutnya dan berhenti karena tertarik pada tanggal 8 Februari 1935. Kakek menulis cukup panjang disurat ini.

Jessica! Aku benar-benar merindukanmu. Kapan kamu pulang? Sudah dua tahun kamu pergi untuk belajar. Apakah disana kamu merindukan aku? Jangan bilang kamu menemukan penggantiku. Kalau sampai ada yang mencoba merebutmu, aku akan mengejarnya sampai kemanapun! Kamu milikku, Jessica sayang. Katakan pada semua orang disana kalau kamu milikku. Mereka pasti iri padaku, karena bisa punya kekasih sesempurna kamu. Di saat kamu pulang nanti, aku akan mengajakmu ke bawah pohon pinus kita! Sekarang pohon itu sudah sangat tinggi. Tapi, aku masih bisa memanjatnya. Cepat pulang, sayang.. Aku akan terus menunggumu.

Aku jadi teringat dengan kisahku sendiri. Kondisi pacarku sekarang hampir sama dengan kondisi nenek waktu itu. Pergi belajar keluar negeri meninggalkan kekasihnya. Bagaimana reaksi kakek waktu itu, ya? Aku membalik halaman-halamannya, ke tanggal 16 Agustus 1933. Beberapa tinta tulisannya melebar, tampak jelas bekas tetesan air.

Jessica… Aku tau aku harus merelakanmu pergi. Aku turut senang karena kamu bisa mengejar ilmumu sampai jauh. Aku bangga punya kekasih sepertimu. Aku mencintaimu. Jangan lupakan aku. Aku akan menunggumu, selama apapun itu. Tiga tahun, kan? Kecil. Aku akan setia disini.

Aku tersentak. Mungkinkah sikapku salah pada pacarku? Apakah seharusnya aku mendukungnya, seperti kakek mendukung nenek? Tapi aku menutup mata atas semua ini. Kakek hanya ditinggal 3 tahun. Aku 10 tahun. Kalau ditinggal 10 tahun, kakek juga pasti akan marah. Aku melanjutkan membaca. Kubuka halaman perhalaman, dan tiba di tanggal 10 Juni 1949.

Hari ini hari paling bahagia bagiku, karena kamu menerima lamaranku. 29 tahun aku hidup, tak pernah kusesali satu haripun yang kulewatkan dengan mencintaimu. Seminggu lagi kita akan dipersatukan. Aku benar-benar mencintaimu.

17 Juni 1949
Kita menikah di bawah pohon pinus kesayangan kita. Aku masih bisa memanjatnya. Sekarang aku akan menggendongmu ke atas dahan-dahan kasarnya!

18 Juni 1949
Aku baru tau kamu menjilid surat-suratku. Aku senang! Karenanya aku takkan berhenti menuliskannya untukmu sekalipun sekarang kita sudah tinggal serumah. Aku mencintaimu.

14 Februari 1950
Selamat ulang tahun! Aku mencintaimu.

20 Februari 1950
Anak kita sudah lahir. Aku tak bisa mengungkapkan kebahagiaanku. Aku mencintai kalian berdua. Aku akan selalu berusaha membahagiakan kalian berdua.

27 Oktober 1950
Kita menghabiskan seharian di bawah pohon pinus. Banyak kenangan kita lalui. Aku suka pohon ini. Tapi aku lebih suka kamu.

Aku membalik-balik kertas-kertas berikutnya. Surat tanggal 30 Maret 1989 menarik perhatianku, karena kertasnya benar-benar penuh dengan bentuk tetesan air.

Kamu divonis kanker. Hidupmu tidak lama lagi. Hanya satu tahun. Tapi aku bersyukur aku bisa mengetahuinya dari sekarang. Aku bisa lebih mencintaimu. Aku bisa lebih bersyukur bersamamu. Lebih bisa menghargai waktuku bersamamu. Aku akan selalu bersamamu. Jangan takut. Aku bersamamu. Jangan takut. Aku akan selalu mencintaimu. Jangan takut, aku akan selalu menjaga pinus kita. Jangan takut. Aku disini..

Air mataku mencapai tepi terluar bola mataku, dan menitik. Aku merasakan sedihnya kakek. 69 tahun mencintai nenek dan sekarang ia hanya punya waktu satu tahun lagi bersama nenek. Dia pasti sangat terpukul. Tapi dia masih berusaha mendukung nenek. Kakek..

Lembaran lembaran berikutnya masih penuh dengan bekas air mata. Entah itu air mata kakek saat menulisnya atau air mata terharu nya nenek. Yang manapun, kesedihan mereka berdua tersampaikan padaku. Kesedihan yang aneh. Kesedihan yang tetap membahagiakan. Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi selama satu tahun penuh itu, kakek tidak pernah absen menulis. Ia menuliskan semua momen bahagianya dengan nenek di bawah pohon pinus. Pohon pinus kenangan mereka. Ia menulis dan menulis. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku bersamamu. Jangan takut. Aku bersamamu. Aku mencintaimu.

30 Maret 1990
Kamu pergi.
Kamu pergi dariku.
Tapi tenang saja, aku takkan pernah melupakanmu.
Aku membaringkanmu di bawah pohon pinus kesayangan kita. Nanti, aku juga akan berbaring disini. Tenang saja. Jangan takut. Aku akan tetap bersamamu. Akan tetap mencintaimu. Aku mencintaimu. Sekalipun kamu sudah pergi.
sekalipun aku tak bisa melihat tawamu lagi.
Tak bisa merangkulmu lagi.
Aku akan tetap mencintaimu.
Sampai jumpa, sayangku.
Aku akan menyusulmu nanti. Sampai saat itu, tetaplah menungguku. Sekarang giliranmu menungguku.

Air mataku terus menitik.

31 Maret 1990
Aku ada di sebelahmu daritadi pagi. Aku menanam bunga disebelahnya. Bunga mawar, cantik bukan? Tapi tentu saja kamu lebih cantik. Sayangnya aku sudah tidak bisa melihat kecantikanmu lagi. Omong-omong, aku tidak tahu kalau surat ini akan kamu baca juga atau tidak. Tapi aku akan tetap menulisnya.

1 April 1990
Aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu. Aku kangen suaramu. Kangen sekali.

2 April 1990
Aku kangen merangkul dan menggenggam tanganmu. Aku kangen kamu.

3 April 1990
Kamu sedang apa? Aku benar-benar merindukanmu. Aku kangen semua tentang kamu. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu.

4 April 1990
Aku menyirami mawar yang kutanam. Aku akan menjaganya dan menjagamu. Seperti janjiku dulu. Akan terus berusaha membahagiakanmu.

Aku menangis. Aku menangis dan terus menangis. Aku tak kuasa menahannya. Aku merasakan kesedihan kakek. Aku tak tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicinta selamanya, tapi aku bisa merasakan betapa kesepiannya kakek. Betapa rindunya kakek dan betapa sedihnya dia. Tapi kakek terus maju. Aku tak kuat membacanya terus. Semuanya mengungkapkan betapa rindunya kakek pada nenek. Dan betapa cintanya ia. Betapa setianya dia.

16 Oktober 1996
Sudah 6 tahun lamanya kamu pergi, Jessica.. Kenapa Tuhan tak kunjung memanggilku? Aku ingin bertemu kamu…

28 Januari 2000
Sekarang sudah 10 tahun aku sendiri.. Tapi aku tetap mencintaimu. Hatiku tak bisa pindah darimu. Masih sangat merindukanmu. Rasa cinta ini tetap sama, dari sejak pertama aku bertemu denganmu. Sampai detik ini tak pernah berubah. Sama seperti pinus ini. Ia tidak berubah. Hanya saja, sekarang aku tak bisa memanjatnya lagi. Aku ingat masa dimana kita berdua duduk di atas dahannya..

30 Maret 2000
Aku memetik setangkai mawar yang kutanam sepuluh tahun yang lalu dan meletakkannya di atas tempatmu berbaring. Sudah sepuluh tahun, Jessica.. Hari ini semua keluargamu menjengukmu. Aku mencintaimu. Aku ingin bertemu kamu. Aku rindu…

Aku terus menangis. Sepuluh tahun rindu yang tak terungkapkan, rindu yang tak bisa dilampiaskan.

21 Maret 2001
Jessica.. Aku capek hari ini. Aku tidak tahu kenapa. Badanku lemah. Menulis saja sulit sekarang. Aku hanya bisa duduk di kursi roda. Tapi aku tetap menyempatkan diri bertemu denganmu. Sehari saja tak kebawah pinus ini, aku merasa mati. Aku merindukanmu.

Aku tau ini. Seminggu kemudian, kakek pergi menyusul nenek. 30 Maret 2001. Tanggal yang sama dengan kepergian nenek. Aku masih menangis. Tanggal yang sama. Ayah membaringkan kakek persis di sebelah nenek, untuk menghargai cinta kakek yang luar biasa. Mungkin Tuhan sengaja memanggilnya di tanggal yang sama. Supaya kakek senang. Sekarang kakek tidak akan sedih lagi karena kerinduannya. Sekarang kakek pasti sedang bergembira bersama nenek.

Aku menatap keluar, melalui jendelaku. Pinus itu masih berdiri dengan kokoh di depan rumahku. Disebelahnya dua nisan batu berdiri, dikerumuni semak mawar. Aku tak berani menatapnya lama-lama. Aku hanya menangis. Dalam diam.

Kututup buku itu. Kuletakkan di atas kasur, lalu keluar. Aku akan menelepon pacarku. Aku akan mengajaknya balikan. Aku mencoba belajar dari kakek. Sebelas tahun ia ditinggal, ia bertahan. Bahkan ia sama sekali tak bisa menghubungi kekasih hatinya. Aku sungguh manja.

***

Angin berhembus dari jendela, membalik halaman-halaman buku itu dan berhenti di halaman terakhir. Huruf-huruf kecil tertera disana.

18 Agustus 2017
Hari ini aku berbahagia bersama Jessica. Aku mencintaimu.

Persis dibawahnya, beberapa kalimat tertata rapi. Itu tulisan wanita.

18 Agustus 2017
Aku juga mencintaimu!

***

Aku kembali ke kamar, mencoba mengingat-ingat. “14 Juni aku jadian.. 18 Agustus aku putus dan 18 Agustus juga aku balikan.” Pikirku tertawa. Aku suka hari ini; aku takkan melupakan hari ini. 18 Agustus 2017.

Genochin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s